MANFAAT SPORT MASSAGE PADA ASAM LAKTAT TUBUH

Di era perkembangan olahraga yang sangat membudaya baik di Indonesia maupun dunia Internasional dari mulai wanita maupun laki-laki, anak-anak, dewasa maupun tua, bahwa dengan berolahraga dapat meningkatkan prestasi, kesehatan dan kebugaran tubuh. Sehingga olahraga sebagai kebutuhan yang tdk dapat dipisahkan dalam kehidupan ini. Salah satunya pada olahraga prestasi, para atlet akan diberikan latihan-latihan yang dapat meningkatkan prestasinya, antara lain: latihan kondisi fisik yang dapat selalu bermanfaat menjaga kebugaran pada otot. Seperti yang diungkapkan oleh Bompa (1999) dan Sharkey (2002: 166) bahwa olahragawan/atlet setiap harinya harus selalu dituntut untuk mempunyai kondisi fisik yang prima diantaranya: menjaga kebugaran pada otot yang digunakan untuk kekuatan, kecepatan, kelincahan, koordinasi, daya ledak, kelentukan, keseimbangan, ketepatan, daya tahan dan reaksi. Sedangkan menurut Rahim (1988:30), bahwa perawatan tubuh sangat penting bagi olahragawan untuk meningkatkan penampilan dan menjaga kondisi fisik supaya tetap bugar dan sehat. Salah satu perawatan yang sering dilakukan oleh atlet adalah dengan
sport massage yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan otot akibat aktivitas latihan ataupun bertanding. Ketegangan otot yang terjadi dipengaruhi oleh asam laktat dalam darah akibat proses tubuh mengeluarkan energi.

Asam laktat dalam darah pada tubuh atlet akan meningkat pada saat berlatih atau bertanding disebabkan karena saat berlatih dan bertanding mengeluarkan energi dari tubuh. Kebutuhan energi tersebut dapat diperoleh melalui glikolisis. Berdasarkan ketersediaan oksigen dalam sel, glikolisis dapat terjadi secara aerob dan anaerob. Pada glikolisis anaerob terjadi dalam dua jalan yaitu : secara anaerob alaktasit (sistem fosfagen) yang tidak menghasilkan asam laktat dan anaerob laktasit (sistem asam laktat) yang memproduksi asam laktat pada tubuh (Astrand, 2003; Guyton, 2000; Mayes, 2003). Saat anaerob alaktasit terjadi terjadi secara terus menerus maka ketegangan otot akan atau kontraksi semakin tinggi. Sehingga penganan asam laktat dalam darah yang terjadi pada atlet secara berlebihan akan menimbulkan cedera pada otot dan mengakibatkan peningkatan prestasi kurang maksimal.

 

Asam Laktat
Sebagai mahluk hidup tubuh selalu memerlukan energi untuk menjalankan akivitasnya. Kebutuhan energi tersebut dapat diperoleh melalui glikolisis. Berdasarkan ketersediaan oksigen dalam sel, glikolisis dapat terjadi secara aerob dan anaerob. Pada glikolisis anaerob terjadi dalam dua jalan yaitu : secara anaerob alaktasit (sistem fosfagen) yang tidak menghasilkan asam laktat dan anaerob laktasit (sistem asam laktat) yang memproduksi asam laktat (Astrand, 2003; Guyton, 2000; Mayes, 2003). Pada sistem aerobik, energi dalam bentuk ATP dihasilkan dari oksidasi piruvat dalam mitokondria dengan hasil akhir CO2 dan H2O.

Pada sistem anaerob alaktasit (sistem fosfagen = sistem ATP-PC) energi dihasilkan dari pemecahan ATP dan kreatinin fosfat. Secara sederhana rangkaian reaksi pembentukan energi melalui sistem ATP-PC dapat dituliskan sebagai berikut :
1) ATP -> ADP + Pi + energi
ATP yang tersedia dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 1-2 detik
2) PC (phosphocreatin) + ADP -> kreatin + ATP
ATP yang terbentuk dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 6-8 detik.

Sedangkan sistem anaerob laktasit adalah metabolisme glukosa dengan hasil akhir ATP dan asam laktat, yang rangkaian reaksinya secara sederhana dapat dituliskan sebagai berikut :
Glikogen/glukosa + ADP + Pi ATP + asam laktat
ATP yang dihasilkan pada sistem anaerob laktasit ini dapat digunakan untuk aktivitas fisik selama 45-120 detik.

Pembentukan ATP dengan sistem anaerob laktasit ini menghasilkan asam laktat, yang merupakan hasil matabolisme antara, yang apabila produksinya melebihi kecepatan eliminasinya dapat mempengaruhi kinerja otot. Namun demikian tubuh memiliki kemampuan untuk menetralisir produksi asam laktat yang tinggi dengan jalan resintesa sebanyak 98 % dan ekskresi melalui urin dan keringat sebesar 2%. Resintesa asam laktat menghasilkan tiga zat : pertama adalah energi dari piruvat yang merupakan 72 % dari seluruh asam laktat yang dihasilkan melalui oksidasi aerob. Kedua, 18 % asam laktat akan dikonversi menjadi glikogen di hati melalui siklus Cori. Ketiga, asam laktat sebesar 8 % akan mengalami resintesa menjadi asam amino alanin. Ini berarti apabila terdapat peningkatan masuknya asam laktat ke dalam sirkulasi darah yang melebihi laju eliminasi asam laktat akan menyebabkan jumlahnya dalam sirkulasi darah meningkat . (Fox, 1988; Stainby, 1986; Brooks, 1986; Farrel, dkk. 1991). Dalam keadaan istirahat asam laktat tetap diproduksi. Dan asam laktat dalam keadaan istirahat dihasilkan oleh sel darah merah, sel darah putih, otak, sel otot, sel hati, mukosa usus dan kulit (Brooks & Fahey, 1985; Katz, 1988). Kadar asam laktat dalam darah vena dalam keadaan istirahat adalah 0.63 –2.44 mmol/l, sedangkan sumber asam laktat yang terbesar pada keadaan istirahat berasal dari pemecahan glukosa di dalam sel darah merah (Fox, 1988; Stainby, 1986; Brooks, 1986; Farrel, dkk. 1991). Dalam keadaan kekurangan oksigen piruvat akan diubah menjadi asam laktat dengan bantuan enzim laktat dehidrogenase (LDH). Terdapat dua tipe enzim


LDH yaitu : LDH tipe M dan tipe H. Kedua tipe LDH ini memiliki kemampuan yang berbeda dalam konversi piruvat – asam laktat. LDH tipe M memiliki afinitas yang lemah terhadap piruvat dibanding tipe H , sehinga condong mengubah piruvat menjadi asam laktat. Laktat dehidrogenase tipe H banyak terdapat pada otot jantung, sedangkan LDH tipe M banyak terdapat pada serabut otot rangka tipe II (Brooks & Fahey, 1985; Guyton 2000). Konversi asam piruvat – asam laktat dengan bantuan enzim laktat dehidrogenase
sebagai mana digambarkan pada gambar 1.

ATP.png
Gambar 1. Perubahan asam piruvat menjadi asam laktat (Guyton, 2000)

 

Asam laktat yang terbentuk dalam sel otot akan berdifusi ke luar sel, kemudian asam laktat ekstraseluler ini akan masuk ke dalam sel apabila akan digunakan sebagai sumber energi atau sebagai bahan glukoneogenesis. Untuk masuk ke dalam sel asam laktat melalui dua cara, yakni difusi sederhana dan difusi dipermudah. Hanya sebagian kecil asam laktat yang masuk ke dalam sel dengan cara difusi sederhana melalui membran sel. Sedangkan sebagian besar asam laktat masuk ke dalam sel dengan jalan difusi dipermudah melalui konjugasi dengan kation H+, Na+, dan K+. Gradien pH otot dan darah mempengaruhi arah transportasi asam laktat. Apabila pH sel otot lebih rendah dibandingkan dengan pH darah, maka asam laktat akan ke luar dari sel-sel otot yang aktif dan akan masuk ke dalam sel oksidatif dan sel inaktif yang berdekatan. Namun apabila pH darah lebih rendah dibanding dengan sel otot, maka asam laktat dalam darah akan masuk ke hati, jantung, ginjal, dan otot yang tidak aktif ( Stansby & Brooks, 1990).

Dalam keadaan istirahat otot rangka secara bersamaan membentuk dan mengkonsumsi asam laktat. Pada saat otot berkontraksi terjadi peningkatan pembentukan dan konsumsi asam laktat lebih banyak. Menurut Hultman dan Sahlin yang dikutip oleh Budiman (1996), bila konsentrasi asam lakat dalam darah meningkat, maka otot-otot yang istirahat akan mengkonsumsi asam laktat sebagai sumber energi dengan jalan oksidasi hingga mencapai 50 %. Sedangkan otot yang aktif merupakan jaringan yang dapat mengeliminasi asam laktat dalam jumlah terbesar dengan cara oksidasi hingga mencapai 90 %. Kemampuan otot dalam metabolisme asam laktat ini disebabkan, serabut otot rangka terdiri dari serabut tipe lambat (tipe I) merupakan serabut tipe aerobik (serabut otot merah) serta tipe cepat (tipe II) merupakan serabut tipe anareobik (serabut otot putih). Serabut tipe I lebih banyak mengandung myoglobin, mitokondria dan enzim oksidatif dibandingkan dengan serabut tipe II sehingga memiliki kapasitas oksidatif. Sedangkan serabut tipe II (serabut otot putih) mengandung lebih banyak kreatin fosfat, glikogen, myosin ATP-ase, dan enzim glikolitik dibandingkan dengan serabut tipe I, sehingga memiliki kapasitas glikolitik. Pada aktivitas intensitas rendah serabut tipe I lebih dominan terpakai, sedangkan pada aktivitas intensitas tinggi serabut tipe I dan II terpakai ( Brooks & Fahey, 1985; Astrand & Rodhal, 2003). Sehingga pada aktivitas intensitas rendah eliminasi asam laktat terjadi lebih cepat. Beberapa peneliti melaporkan bahwa asam laktat dapat dioksidasi oleh sel-sel otot atau ditransport ke sel lainnya melalui difusi yang dipermudah oleh monocarboxyilate transporter (MCT) (Brooks,1986; Philp, A., 2005; Tonouchi, dkk., 2002).

 

Pengaruh Sport Massage terhadap Kadar Asam Laktat Darah

Sport massage yang dilakukan pada tubuh memberikan efek fisiologis berupa: peningkatan aliran darah, aliran limfatik, stimulasi sistem saraf, meningkatkan aliran balik vena. Keuntungan lain adalah menghilangkan rasa sakit dengan cara meningkatkan ambang rasa sakit, oleh karena merangsang peningkatan produksi hormon endorphin. Demikian pula sport massage dapat mencegah terjadinya trauma, memberikan efek rehabilitasi dan relaksasi. Penelitian yang dilakukan oleh Dubrouvsky (1990) menunjukkan bahwa masase secara langsung dapat meningkatkan aliran vena di kulit serta meningkakan aliran balik vena. Meningkatnya aliran balik vena ini akan membantu secara efisien pengembalian darah ke jantung, serta membantu mengalirkan asam laktat yang tertimbun dalam otot sehingga membantu mepercepat eliminasi asam laktat dalam darah dan otot (Cafarelli & Flint, 1992; Corrigan, 1997 ) Beberapa peneliti mengemukakan bahwa sport massage superfisial yang dilakukan dengan baik pada otot yang telah bekerja maksimal atau pada seluruh tubuh memberikan efek pada penurunan kadar asam laktat darah (Dodd, dkk.,1993; Lee dan Kim, 1998). Penurunan kadar asam laktat ini disebabkan meningkatnya aliran darah dengan cepat yang dapat memfasilitasi pengaliran asam laktat lebih cepat untuk digunakan sebagai sumber energi di bagian organ lain.

Hasil penelitian Cafarelli menyimpulkan bahwa masase yang dilakukan dengan teknik yang tepat dapat meningkatkan aliran darah perifer sebesar 50 %, meningkatkan jumlah sel eritosit 7%, sehingga kinerja dan waktu pemulihan dapat terjadi lebih baik (Cafarelli dan Flint, 1992). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Goats (1994) membuktikan bahwa, gerakan tapotement pada masase dapat meningkatkan aliran darah pada otot- otot besar. Bahkan effleurage terbukti lebih efektif dalam menurunkan deposit asam laktat dalam sel-sel otot bila dibandingkan dengan olahraga intensitas sedang. Demikian pula dengan masase terjadi peningkatan eliminasi produk hasil metabolisme seperti natrium dan kalium yang dipandang turut berperan dalam menimbulkan kelelahan ( Arkko, 1983; Dolgener dan Morien, 1993). Masase juga dapat meningkatnya aliran balik vena sehingga akan meningkatkan oksigenasi jaringan otot, mempercepat eliminasi asam laktat (Caffareli & Flint, 1992).


Meningkatnya oksigenasi jaringan akan meningkatkan konversi asam laktat menjadi piruvat sehingga mempercepat penyediaan energi kembali dan mempercepat pemulihan (Astrand, 2003; Foss & Keteyian, 1998). Namun demikian menurut Laughling yang dikutip oleh Corrigan (1997), masase tidak secara langsung meningkatkan aliran dalam arteri. Peningkatan yang terjadi dalam arteri sangat tergantung pada peningkatan yang terjadi dalam arteriol dan tekanan vena yang cenderung dipengaruhi oleh aliran darah sepanjang kapiler.

Hasil penelitian dilakukan oleh Arkko, dkk. (1983) yang dikutip oleh Corrigan (1997), menyebutkan bahwa masase juga dapat meningkatkan konsentrasi : kreatin kinase, laktat dehydrogenase dalam sel otot. Demikian pula masase dapat merangsang aliran lymphe, hal ini dibuktikan oleh Cafarelli dan Flint (1992) dalam penelitiannya, bahwa masase dapat meningkatkan diameter pembuluh lymphe sebesar 25 %. Hasil penelitian ini menunjukkan keuntungan masase selama pemulihan dapat meningkatkan aliran balik vena sehingga membantu mempercepat eliminasi asam laktat. Penelitian yang dilakukan oleh Bahartresna (2005) pada individu tidak terlatih menyimpulkan bahwa sport massage selama masa pemulihan menurunkan kadar asam laktat darah lebih baik dibandingkan dengan istirahat pasif setelah aktivitas lari 200 meter. Demikian pula penelitian yang dilakuka oleh Jones dan Mondero membuktikan bahwa sport massage dapat meningkatkan eliminasi asam laktat selama masa pemulihan setelah latihan intensitas tinggi. Demikian pula hasil penelitian Martin, dkk. sport massage selama 20 menit menyebabkan penurunan asam laktat darah sebesar 36, 21 %, serta menurut David, dkk. Sport massage selama 45 menit menyebabkan penurunan asam laktat darah sebesar 72,4 % (David, dkk, 2005; Martin, dkk.,1998).

Iklan

Pengertian Fisioterapi

Praktek fisioterapi atau terapi fisik sudah dimulai sejak abad 2500 SM di China berupa akupuntur dan berbagai teknik manual therapy. Penggunaan fisioterapi juga sudah tercatat dalam Ayurveda yang merupakan suatu sistem kedokteran paling tua dan sampai sekarang masih dipraktekkan dan diakui oleh India sebagai bagian dari sistem kesehatan negara. Pada kedokteran barat, tercatat pada tahun 460 SM, Hippocrates sudah menggambarkan massage dan hydrotherapy sebagai alternatif penyembuhan berbagai penyakit.

Pada era modern, fisioterapi mulai banyak dikembangkan pada tahun 1896 di London yang pada mulanya bertujuan untuk meningkatkan mobilitas penderita yang dirawat inap di rumah sakit untuk menjaga kekuatan dan fungsi otot. Ilmu fisioterapi kemudian berkembang pesat dan mulai dilakukan standardisasi layanan dan profesi fisioterapi yang terutama didasarkan pada ilmu kedokteran modern. Pada tahun 1920 mulai dibentuk perkumpulan ahli fisioterapi di Inggris yang kemudian diikuti oleh berbagai negara lain. Perkembangan ilmu dan layanan fisioterapi juga dipengaruhi oleh perang dunia I dan II dimana pada saat tersebut dan paska perang terdapat peningkatan kebutuhan perawatan dan rehabilitasi korban perang.

Pengertian dan Ruang Lingkup Fisioterapi

Fisioterapi merupakan bagian dari ilmu kedokteran yang berupa intervensi fisik non-farmakologis dengan tujuan utama kuratif dan rehabilitatif gangguan kesehatan. Fisioterapi atau Terapi Fisik secara bahasa merupakan teknik pengobatan dengan modalitas fisik (fisika). Beberapa modalitas fisik yang terdapat di pergunakan antara lain : listrik, suara, panas, dingin, magnet, tenaga gerak dan air. Modalitas fisik inilah yang kemudian menjadi dasar aplikasi fisioterapi. Sebagai contoh, suhu dapat dimodifikasi menjadi suhu dingin (coldtherapy) dan suhu panas (thermotherapy) yang digunakan pada keadaan yang sesuai dengan indikasi terapi tersebut. Secara lengkap struktur dasar modalitas fisika dalam fisioterapi beserta aplikasinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini .

Capture.PNG
Modalitas Fisika dalam Kaitannya dengan Aplikasi Fisioterapi

Apl kasi fisioterapi dewasa ini terus menerus mengalami perkembangan baik dari sisi prosedur pelaksanaan maupun alat-alat pendukung. Aplikasi Fisioterapi juga semakin cenderung mengkombinasikan modalitas-modalitas fisika yang ada. Sebagai contoh, hydrotherapy dilakukan dengan modifikasi suhu dingin (coldtherapy) dan panas (thermotherapy). Alat pendukung electrotherapy juga sangat berkembang menjadi alat pendukung yang canggih yang dipergunakan pada level pusat pelayanan kesehatan maupun penemuan alat alat yang dapat dipergunakan secara mandiri oleh penderita, misalnya penggunaan alat TENS (transcutaneous electro nerve stimulation). Pada cabang fisioterapi non-alat, manual therapy dan exercise therapy merupakan cabang fisioterapi yang paling berkembang di dunia olahraga. Manual therapy berkembang untuk melayani kebutuhan pengatasan cedera olahraga maupun cedera non-olahraga pada komunitas atlet dan non-atlet sedangkan exercise therapy berkembang mengikuti kemajuan teknik kedokteran preventif-rehabilitatif.

MENGETAHUI PERKEMBANGAN PEMAIN SESUAI KELOMPOK UMUR

Disi saya akan membahas tentang Mengatur Perkembangan pemain berdasarkan umur dan tingkatan dalam permainan Olahraga Cabang Sepakbola, Khususnya dalam melatih di tingkat Sekolah Sepak Bola / SSB.

Anak-anak TIDAK belajar dengan cara yang sama seperti orang dewasa, khususnya ketika proses belajar mencakup intelektual sekaligus aktivitas fisik. Umur seseorang menentukan cara ia berhubungan dengan dunia di sekitarnya dan dengan sesamanya. Dalam semua proses belajar, umur adalah kunci dalam memilih materi dan metode apa yang cocok untuk mengajarkan suatu materi. Sepak bola juga demikian. Untuk alasan inilah kita tidak dapat menyamakan latihan antara usia 5 dan 13 tahun. Frekuensi latihan harus disesuaikan dengan usia pemain. Berdasarkan karakteristik dari pertumbuhan manusia dan seorang pemain, Dibawah ini dijelaskan tentang pembagian kelompok umur sesuai dengan Kurikulum.


TINGKAT PEMULA (FUN PHASE) – 5 SAMPAI 8 TAHUN

Pada tingkat usia ini, anak-anak tidak memiliki kemampuan yang sama seperti orang dewasa untuk mengerti situasi. Mereka memahami dunia dengan pemahaman yang berpusat pada diri sendiri. Bagi anak-anak mengalami kebersamaan dan berhubungan dengan teman-temannya masih sangat berpengaruh. Juga, pengertian pada perasaan atau pikiran orang lain masih sangat rendah. Dalam rangka menolong anak-anak membangun pengalaman mereka sendiri, banyak latihan bersifat individu (misalnya setiap pemain memiliki bolanya masing-masing). Hal yang bersifat taktik dalam pertandingan disederhanakan dalam permainan lapangan kecil (40 m x 20 m) dengan sedikit pemain (4 v 4 atau dengan kiper 5 v 5). Waktu latihan akan juga menyoroti pelatihan olah raga secara umum dan tidak melulu pelatihan sepak bola.

TINGKAT DASAR (FOUNDATION) – 9 SAMPAI 12 TAHUN

Pada tingkat ini, susunan pelatihan (bukan materi latih) sudah mirip dengan pemain yang lebih tua. Bagian terpenting latihan adalah yang bersifat teknis. Sangat baik dalam usia ini mengembangkan teknik dan pengertian akan taktik dasar. Kemampuan anak-anak untuk mengatasi masalah akan berkembang dengan pesat. Maka pemain harus mulai diajarkan taktik dasar yang dinamis. Pada tingkat ini, pemain ada pada masa pra-puber dan memiliki masalah keterbatasan fisik terutama pada kekuatan dan ketahanannya. Latihan fisik yang diberikan hanya sebatas kecepatan dengan bola, kelincahan (agility) dan koordinasi.

TINGKAT MENENGAH (FORMATIVE PHASE)– 13 SAMPAI 14 TAHUN

Para pemain pada usia ini telah memiliki peningkatan yang baik tentang pengertian permainan. Di lain pihak pada umur ini pemain dibatasi oleh keterbatasan fisik dan perubahan-perubahan fisik yang muncul seiring dengan masa pubertas. Pelatih harus sangat memerhatikan kenyamanannya. Pelatih harus menghindari latihan yang berlebihan dan berfokus pada taktik lebih daripada teknik dan mengurangi aspek fisik. Aspek fisik yang paling diutamakan untuk usia ini adalah latihan koordinasi dan flexibility. Latihan taktik bermain sangat penting pada usia ini.

TINGKAT MAHIR (FINAL YOUTH) – 15 SAMPAI 20 TAHUN

Pemain pada usia ini memiliki pertumbuhan fisik dan mental yang lebih lengkap. Semua bagian dari latihan dapat dikombinasikan dan diorganisasikan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi tertinggi dari pemain. Kekuatan otot membantu mereka untuk mengembangkan teknik dengan kecepatan tinggi dan kecepatan ini membantu pemain untuk bereaksi lebih cepat pada situasi taktis. Tingkat ini sangat penting untuk menggabungkan semua bagian dari pelatihan sepak bola dengan tujuan untuk menyempurnakan pemahaman pemain.

Demikian pembahasan singkat tentang : https://febrianalbiol.wordpress.com/2018/03/10/kurikulum-sesuai-kelompok-umur , ikuti terus artikel selanjutnya, semoga bermanfaat, Salam Olahraga.

Hilangnya Esensi seorang Guru

Disini saya akan sedikit membahas tentang esensi seorang guru. Aristoteles (Guru besar filsuf yunani) pernah mengatakan manusia adalah binatang yang berpikir (animal rationale), karena akalnya manusia adalah mahluk yang sempurna.

Di zaman dahulu guru adalah orang yang paling dihormati setelah orang tua, bahkan orang tua mempercayai sepenuhnya hak asuh, pendidikan, dan masalah akhlak anak kepada guru pada saat disekolah. Tak heran guru berani memarahi, membentak dan memukul murid bila melakukan kesalahan. Murid dulu lebih siap fisik dan mentalnya ketimbang murid sekarang yang terlalu baperan dan lemah. Dibentak sedikit nangis dan melapor ke orang tua, orang tua pun tidak terima guru membentak anaknya, orang tua melapor ke pada yang berwenang.

Saling melapor adalah tindakan terbaik dalam menyelesaikan masalah di sekolah antara guru dan murid.

Orang tua sekarang terlalu gampang menyalahkan dan tidak percaya bahwa guru bisa menjadi orang tua terbaik di sekolah selayaknya orang tua di rumah. Kalau kepercayaan orang tua terhadap guru sudah tidak ada, saran saya para orang tua mengambil anaknya dan membuat sekolah sendiri di rumah, mendidik sendiri, mengajarinya sendiri dan marah-marah sendiri ketika anak melakukan kesalahan. Sebab orang yang sering marah tidak baik dan orang yang tidak pernah marah juga tidak baik, karena orang yang tidak pernah marah itu tidak peduli.

Jadi bisakah orang tua sabar sebagaimana guru tidak membentak, tidak marah dalam mendidik?

Tidak semua orang pintar bisa mengajar dan belum tentu juga yang bisa ngajar adalah orang pintar, sebab mengajar adalah hal yang tersulit dalam pendidikan.

Saya kira menjadi guru lebih berat dibandingkan menjadi Dilan yang hanya berat menanggung beban rindu.

Menjadi Guru Abad 21 sangatlah sulit, karena menjadi guru harus bisa memanusiakan manusia, guru harus menjadi manusia paling sempurna diantara manusia pada umumnya. Guru bukan lagi tanpa tanda jasa bagi murid melainkan sama halnya seperti teman yang sedang belajar didalam kelas, kasus penganiayaan murid terhadap guru hingga tewas sebagai bukti bahwa guru itu hanya teman semata. Anggapan ini lah yang memunculkan dekadensi moral murid sehingga hilangnya rasa hormat kepada guru.

Seandainya esensi guru sama dengan orang tua tidak akan terjadi peristiwa yang memilukan didunia pendiikan, ini juga akibat lemahnya guru dalam sistem pendidikan menjadikan murid seenaknya sendiri, ibarat murid adalah raja, guru adalah tenaga pembantu. Murid sudah menjadi binatang liar dan menerkam mati sang guru.

Semoga Bermanfaat,

Salam Olahraga…

 

Pengertian Sepakbola secara Objektif

Saat melakukan suatu kegiatan apapun, tentu hal yang paling penting adalah memahami sepenuhnya definisi objektif dari kegiatan tersebut. Tak salah bila sebelum berkegiatan sepakbola, kita berusaha mempelajari serta memahami definisi dan konsep
dasar sepakbola. Muncullah pertanyaan paling dasar dari segala dasar, yakni: Apa itu Sepakbola? Jawabannya begitu mudah, tapi beragam. Ada yang dengan sederhana mengatakan permainan 11v11 dengan 1 bola. Lalu ada yang mengatakan sepakbola adalah permainan yang digemari banyak
orang. Pihak lain menjabarkan sepakbola sebagai olahraga yang terdiri dari teknik-taktik-fisik-mental. Bahkan Bill Shankley dengan garang katakan bahwa “sepakbola adalah permainan yang lebih penting daripada soal hidup dan mati”.

Semua jawaban di atas tidaklah salah. Tetapi untuk mulai mempelajari sepakbola tentu dibutuhkan suatu jawaban yang objektif, faktual dan universal. Bukan suatu jawaban yang subjektif, opini dan lokal. Artinya jawaban yang berdasarkan fakta bukan pendapat, serta berlaku di segala tempat. Jawaban yang objektif mewakili sepakbola di segala level, usia dan tempat.

1. Teori Aksi

Bahasa yang subjektif membuat proses analisa latihan dan pertandingan seringkali kontraproduktif. Perumusan masalah juga gagal terdefinisikan dengan baik. Persoalannya adalah bahasa subjektif selalu menjadi superfisial. Masalah sepakbolapun tak terdefinisi dengan tegas. Kalimat “pemain tidak main dengan hati”, “tim habis bensin” atau “si A bermain terlalu salon,” sangat popular diucapkan pelatih, apalagi pengurus. Jika pendefinisian masalahnya seperti itu, maka pelatih perlu membuat latihan dengan topik: “Peningkatan Kualitas Hati”, “Efisiensi Penggunan Bensin” atau “Pengkerasan Individu”. Ya solusi abstrak untuk masalah yang abstrak pula.

bola

Tentu, saat pelatih mengatakan Si A terlalu salon, ia memiliki maksud lain. Si A sebenarnya memiliki persoalan sepakbola tertentu. Hanya saja, sang pelatih tidak mampu menjelaskannya dengan bahasa sepakbola objektif. Ketidakmampuan seorang pelatih menstrukturkan persoalan sepakbola dengan bahasa sepakbola merupakan problem besar. Einstein mengatakan, “kalau anda tidak bisa menjelaskan dengan sederhana, berarti anda tidak terlalu mengerti”. Beruntunglah Jan Tamboer, seorang filsuf dalam bukunya “Football Theory” membuat semua lebih mudah. Ia menjelaskan bahwa sepakbola perlu dipandang dalam kacamata teori aksi. Dimana aksi sepakbola yang dimaksud bukanlah kata sifat atau kata benda, melainkan kata kerja. Dimana kata kerja di sini adalah aksi bukanlah gerakan. Aksi adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan konteks dan interaksi dengan sekitarnya. Sedangkan gerakan adalah mekanika gerak yang independen. Di dalam kehidupan, mengangkat tangan di depan cermin adalah gerakan, tetapi mengangkat tangan menyapa kawan adalah aksi. Keduanya memiliki mekanika gerak sama. Hanya, angkat tangan menyapa kawan memiliki interaksi dengan sekitar. Itulah juga yang bedakan kicking dengan passing. Di sepakbola: kawan, lawan, bola adalah sekitar. Ya, dribble, passing, control, support, pressing, covering, squeeze in, dll adalah aksi-aksi sepakbola.

2. Bahasa Sepakbola yang Operatif

Dari pendefinisian di atas, mungkin maksud pelatih katakan “tim bensin habis” itu berarti “hanya mampu melakukan pressing di daerah lawan selama 30 menit”. Lalu “pemain salon” adalah “jalan kaki saat tim kehilangan bola.” Alih-alih menggunakan kata sifat yang superfisial dan subjektif, kini pendefinisian masalah menjadi kata kerja yang konkret dan objektif. Definisi masalah konkret akan berujung pada solusi konkret pula. Kini pelatih perlu tingkatkan kemampuan pelihara pressing di area lawan dari 30 menit, jadi 45-60-90 menit. Bagaimana latihannya? Bermain game pressing tinggi di area lawan dengan durasi lebih panjang. Pemain salon? Pelatih perlu ajarkan posisi, timing, arah dan kecepatan transisi saat hilang bola. Caranya? Selalu lakukan coaching saat transisi negatif terjadi dalam game. Yes, bahasa sepakbola berbasis aksi sepakbola membuat operasi sepakbola menjadi sederhana dan mudah!

semoga bermanfaaat, Salam Olahraga. . .

Terimakasih

Tips Berlatih Smash dan Macam-Macam Teknik Smash Dalam Permainan Bola Voli

Salam Olahraga…!!!
Kali ini saya akan berbagi tips berlatih smash dan macam-macam teknik smash dalam permainan bola voli. Smash adalah sebuah pukulan yang keras dan mempunyai ketajaman untuk mematikan lawan dan merupakan sala satu unsur yang sangat penting dalam permainan bola voli, smash sangat diperlukan ketajaman, keras dan mempunyai ketepatan untuk mematikan lawan, selain smash, tehnik blocking juga diperlukan agar pertahanan menjadi kuat, sehingga bisa membuat prustasi pemain lawan. Untuk mencapai semua itu, harus berlatih secara tekun dan serius. Rotasi atau perputaran pemain juga penting karena kalau sampai salah bisa memberikan nilai buat lawan. Kali ini saya akan memberikan macam-macam teknik smash dalam permainan bola voli beserta cara melatih smash agar mempunyai power dan ketepatan.
Gearakan mash dalam permainan bola voli dibagi menjadi 3 bagian diantaranya yaitu sebagai berikut :
1. Berdasarkan arah bola hasil pukulan.
     a. Cross court smash
     b. Straight smash
2. Berdasarkan kecepatan / curve jalannya bola hasil pukulan.
     a. Strong smash
     b. Lob
     c. Drive
3. Berdasarkan tingginya umpan
    a. Open smash
    b. Quick smash (pool)
    c. Semi quick (semi pool)
    d. Push smash
Penjelasan beberapa teknik smash dalam permainan bola voli :
 
A. TEKNIK SMASH NORMAL
Dalam pengambilan persiapan sikap saat bola dipukul dan sikap saat akhir seperti yang telah diuraikan diatas hanya saja disini perlu ditambahkan kapan smasher harus memukul bola diatas jaring. Pengambilan awalan ialah pada saat bola lepas dari tangan set-uper pada saat itu smasher bergerak kearah bola dan sambil mengontrolya. Sekiranya jarak dengan bola sudah cukup sejangkauan lengan pemukul maka segeralah smasher meloncat keatas dan meraih bola diatas jaring dengan suatu pukulan. Bahwa suatu kenyataan menunjukkan suatu keberhasilan suatu smash juga sangat tergantung kepada sempurna atau tidakya set-uper didalam memberikan umpan.
 
B. TEKNIK SEMI SMASH
Di dalam semi smash pengambilan sikap siap, sikap saat perkenaan bola dan sikap akhir sama seperti pada uraian teknik normal smash perbedaanya adalah pada saat pengambilan awalan oleh smasher dan penyajian bola dari set-uper. Setelan smasher mengambil posisi untuk melakukan awalan ke depan maka kemudian smasher mulailah melangkah kearah depan, bila semula smasher itu sendiri yang memberikan passing kepada set-uper maka pada saat bola telah lepas dari tangan smasher bergerak pelan-pelan dengan langkah yang tetap menuju kearah set-uper. Demkian set-uper menyajikan bola dengan ketinggian 1 meter diatas net maka secepatya smasher menolak keatas dan memukul bola.
C. PUSH SMASH
Didalam pengambilan push smash pada saat pengabilan awalan, proses pemukulan bola  dan sajian bola. Smasher sebelum bergerak mengambil awalan maka terlebih dahulu harus bergerak kearah luar lapangan dan mendekat kepada tiang net. Bila smasher telah dalam keadaan posisi demikian maka siaplah untuk bergerak melangkah menyongsong datangya bola bergerak dengan arah pararel dengan jaring. Demikian bola dah sampai atas tepi jaring dan diharapkan ketinggian bola optimal diatas jaring maka segeralah smasher meloncat dan langsung memukul bola secepatya, setelah smasher mendarat kembali ditanah dengan lentuk dan agak kearah depan sedikit dari permulaan dia menolak. Proses menjalankan push smash akan terjadi lebih cepat daripada semi smash.
Kesalahan umum yang banyak dilakukan oleh para smasher :
  1. Langkah awalan terlalu melebar dan meloncat hal ini berakibat mengurangi daya tolak ke atas.
  2. Tergesa-gesa melangkah maju sebelum bola diumpan sehingga pemain dibawah bola.
  3. Start terlalu awal atau terlambat.
  4. Meloncat ke atas dibawah bola sehingga pukulan tidak dapat keras dengan penuh tenaga.
  5. Persiapan meloncat lutut kurang ditekuk.
  6. Jari-jari menggenggam saat memukul bola
  7. Lengan pemukul terlalu ditekuk pada siku sehingga pengambilan bola smash tidak bisa sampai titik tertinggi.
  8. Kurang aktifya pergelangan tangan.
  9. Mendarat dengan satu kaki dan tidak lentuk.
  10. Meloncat kedepan dan sering mengakibatkan menyentuh net apabila bols umpan dekat net.
  11. Tidak melihat bola secara teliti  pada sat meloncat dan memukul.
  12. Badan dan kaki pasif pada saat memukul.
  13. Lengan pemukul berada dibelakang kepala sehingga pemain melakukan smash dengan banyak membusur tongok kepala dan kaki.
  14. Pada saat kan menolak ke atas kedua kaki dari awalan terakhir kurang sejajar jarak kedua tapak kaki terlalu lebar atau terlalu dekat sehingga daya loncat akan berkurang.
  15. Awalan dengan kecepatan tinggi akan mengurangi koordinasi gerakan loncat.
CARA MELATIH SMASH
Berdasarkan identifikasi gerakan didalam permainan bola voli dasar pokok dari teknik smash yang harus dilatih adalah sebagai berikut :
  1. Perubahan sikap dan posisi dari sikap dan posisi penerimaan bola ke sikap dan posisi melakukan awalan
  2. Melakukan awalan
  3. Ayunan lengan keatas dan memukul
  4. Takk-off dan meloncat
  5. Landing atau mendarat

Dibawah beberapa macam gerakan untuk melatih smash :

  • Sebelum melakukan latihanusahakan melakukan pemanasan secara statis dan dinamis
  • Loncat-loncat menggunakan odeng atau bangku untuk melatih sendi pada pergelangan kaki atau melatih awalan tolakan
  • Ambil sebuah botol disi dengan pasir lalu tangan memegang botol yang telah diisi pasir tangan lurus keatas lalu gerakan nai turun menggunakan pergelangan tangan saja itu untuk melatih polos
  • Memukul bola dipantulkan kedinding itu juga berguna melatih polos
  • Melatih otot tangan bisa dengan push-up angkat beban dan lain-lain untuk melatih power
  • Latihan awalah tanpa menggunakan bola
  • Melatih smash dengan pelan untuk melatih timing
  • Latihan smash dengan menggunakan botol,lingkaran ataupun lainnya bisa dilakukan pada saat anda melakukan smash usahakan tepat pada sasaran yang telah anda pasang misalkan botol tadi itu untuk melatih ketepatan smash.

Demikianlah macam-macam teknik smash dalam permainan bola voli dan cara melatih smash dengan benar, Semoga bisa bermanfaat. Salam Olahraga.

Terima kasih.

TUGAS PJOK KELAS XI

Kerjakan Soal – soal dibawah ini dengan tepat :

Studi Kasus Olahraga

  1. Kevin adalah siswa kelas X umur 14 tahun dengan tinggi badan 170 cm dan mempunyai berat badan 80 kg. Dengan menganalisa tabel body mass index ( Lihat :CARA MENGHITUNG INDEKS MASSA TUBUH(BODY MASSA INDEX)BMI ), apakah bentuk latihan olahraga yang paling tepat untuk mengembalikan ke bentuk badan Ideal Kevin? Berikan juga alasanmu.
  2. Jelaskan pengaruh kemampuan Power Otot Tungkai dan Power Otot Lengan terhadap kemampuan smash atlit bola voli! ( Lihat : Pengaruh Power Otot Tungkai dan Otot Lengan terhadap kemampuan Smash Bola Voli ), apakah bentuk latihan yang paling tepat untuk meningkatkan kekuatan power otot tungkai dan power otot lengan pada permainan bola voli?berikan juga alasanmu.

Dikerjakan di Buku Catatan PJOK, dan dikumpulkan pada hari Senin 26/2/2018

Selamat Mengerjakan